Oleh: Raka Adinata
Kemajuan Indonesia menuju negara maju tidak hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan menguasai ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi. Karena itu, penguatan ekosistem penelitian nasional menjadi langkah penting yang patut didukung seluruh elemen bangsa.
Di tengah berbagai capaian pembangunan selama setahun terakhir, seperti percepatan hilirisasi industri, penguatan ketahanan pangan dan energi, perluasan elektrifikasi desa, peningkatan pembangunan rumah subsidi, serta berbagai kebijakan untuk memperkuat investasi nasional, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan bahwa riset dan inovasi merupakan fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaya saing, dan mampu bersaing di tingkat global.
Komitmen tersebut ditegaskan Presiden Prabowo Subianto saat menerima sekitar 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Kompleks Istana Negara. Pertemuan itu menjadi bukti bahwa pemerintah menempatkan riset sebagai bagian penting dalam penyusunan kebijakan pembangunan nasional. Menurut Presiden, bangsa yang mampu menguasai sains dan teknologi akan berkembang lebih cepat karena kemajuan ilmu pengetahuan menjadi faktor utama yang menentukan kekuatan ekonomi, industri, pertahanan, kesehatan, hingga ketahanan energi suatu negara.
Presiden menilai pembangunan nasional tidak dapat dipisahkan dari kemampuan bangsa mengembangkan teknologi sendiri. Oleh sebab itu, pemerintah ingin memastikan hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi mampu diterapkan menjadi solusi nyata bagi berbagai persoalan masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan mendorong lahirnya inovasi yang mampu meningkatkan produktivitas industri, memperkuat daya saing nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap teknologi dari luar negeri.
Dalam kesempatan itu, Presiden sengaja mengundang para peneliti BRIN agar dapat melihat secara langsung berbagai inovasi yang telah dihasilkan maupun yang masih dikembangkan. Presiden juga menyampaikan keinginannya untuk mengunjungi pusat-pusat penelitian BRIN pada kesempatan berikutnya sehingga dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai perkembangan riset nasional. Langkah tersebut menunjukkan adanya komunikasi yang semakin erat antara pemerintah dan komunitas ilmiah dalam mempercepat penerapan hasil penelitian ke dalam kebijakan pembangunan.
Disisi lain, Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa Presiden memberikan perhatian besar terhadap pengembangan teknologi strategis, khususnya di sektor energi. Menurutnya, Presiden meminta BRIN terus melakukan kajian mengenai berbagai kebijakan yang dapat memperkuat kedaulatan energi Indonesia sehingga ketergantungan terhadap sumber energi dari luar negeri dapat terus dikurangi. Upaya tersebut dinilai penting mengingat ketahanan energi menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Arif Satria mengatakan BRIN diminta mengkaji secara komprehensif dampak penerapan biodiesel B60, B100, maupun bioetanol E30. Kajian tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi ilmiah mengenai manfaat ekonomi, lingkungan, serta kesiapan industri nasional sebelum kebijakan diterapkan secara lebih luas. Pendekatan berbasis riset tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam memastikan setiap kebijakan strategis memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Selain bioenergi, Presiden juga memberikan perhatian terhadap pengembangan teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG). Menurut Arif Satria, teknologi ini berpotensi mengoptimalkan pemanfaatan gas alam domestik sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Jika diterapkan secara luas, teknologi tersebut diperkirakan mampu menghemat beban subsidi negara hingga sekitar Rp26 triliun setiap tahun. Potensi tersebut menunjukkan bahwa investasi di bidang riset dapat memberikan manfaat ekonomi yang sangat besar sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Perhatian pemerintah juga diarahkan pada sektor kedirgantaraan. BRIN memaparkan perkembangan pesawat N219 hasil kolaborasi dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), sekaligus pengembangan pesawat amfibi yang dirancang untuk meningkatkan konektivitas antarpulau. Inovasi tersebut dinilai sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena mampu menjangkau daerah yang belum memiliki landasan pacu sehingga pembangunan transportasi udara dapat dilakukan secara lebih efisien.
Di bidang kesehatan, Presiden turut mencermati pemanfaatan teknologi nuklir untuk kepentingan nonenergi. Arif Satria menjelaskan BRIN telah mengembangkan teknologi radiofarmaka yang dapat dimanfaatkan untuk diagnosis dan terapi kanker. Selain itu, teknologi iradiasi pangan juga dikembangkan guna memperpanjang masa simpan berbagai komoditas sehingga mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Berbagai inovasi lain turut diperlihatkan kepada Presiden, mulai dari teknologi pengolahan sampah, rumah tahan gempa, material bangunan ramah lingkungan berbahan limbah sawit dan serabut kelapa, teknologi pengolahan air bersih, hingga pengembangan sepatu berbahan baku karet dan limbah sawit. Beragam hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa riset nasional semakin mampu menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung untuk mendukung kebutuhan masyarakat maupun industri dalam negeri.
Pada akhirnya, keberhasilan membangun Indonesia yang maju membutuhkan dukungan seluruh komponen bangsa. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat perlu terus berkolaborasi agar hasil penelitian dapat berkembang menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Dengan komitmen yang ditunjukkan Presiden Prabowo Subianto bersama BRIN serta dukungan Arif Satria dan para peneliti nasional, penguatan riset strategis diharapkan menjadi jalan menuju kemandirian teknologi, meningkatkan daya saing Indonesia, serta memperkokoh posisi bangsa di tengah persaingan global.
*) Analis Kebijakan dan Pemerintahan











