Penguatan Hilirisasi Komoditas Unggulan Papua Dorong Perekonomian Daerah

oleh -7 Dilihat
oleh
banner 468x60

JAKARTA – Langkah hilirisasi di Papua memasuki fase yang semakin konkret. Berbagai inisiatif strategis digulirkan secara terintegrasi, mulai dari komoditas unggulan melalui sinergitas pemerintah pusat dan daerah serta keterlibatan investor internasional. Pendekatan ini tidak lagi sebatas penguatan produksi, melainkan diarahkan pada peningkatan nilai tambah dan perluasan akses pasar global.

Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, bersama Kementerian Dalam Negeri memfasilitasi pertemuan 21 investor Eropa dengan perwakilan tiga kabupaten penghasil kakao, yakni Kepulauan Yapen, Jayapura, dan Manokwari Selatan. Forum tersebut membahas pengembangan industri kakao dari hulu hingga hilir serta potensi ekspor ke pasar internasional.

banner 336x280

“Papua Sehat, Papua Cerdas, dan Papua Produktif adalah satu kesatuan dalam kebijakan otonomi khusus. Untuk Papua Produktif, dibutuhkan langkah nyata. Pertemuan ini mempertemukan pelaku usaha dan pemerintah daerah secara langsung agar proses masifikasi dan pengembangan kakao bisa berjalan,” ujar Billy Mambrasar.

Dari sisi pemerintah pusat, Direktur Penataan Daerah, Otonomi Khusus, dan DPOD Kemendagri, Sumule Tumbo, menegaskan komitmen penguatan ekonomi produktif Papua dalam kerangka otonomi khusus.

“Pemerintah pusat melalui Kemendagri berkomitmen mendukung koordinasi dan sinergi lintas pemerintah daerah serta memperkuat peran otonomi khusus Papua melalui sektor ekonomi produktif. Kakao merupakan salah satu komoditas strategis yang memiliki nilai tambah tinggi,” tegas Sumule Tumbo.

Optimisme juga disampaikan Wakil Bupati Kepulauan Yapen, Roi Palunga, yang menilai kakao sebagai komoditas bersejarah sekaligus masa depan ekonomi daerah.

“Kakao sudah ada di Kepulauan Yapen sejak zaman Belanda. Namun sejak 2009 belum ada program pengembangan berkelanjutan. Saat ini terdapat sekitar 2.065 petani kakao di Yapen. Jika sektor ini kembali dikembangkan, petani akan memiliki kepastian kesejahteraan,” ungkap Roi Palunga.

Selain kakao, Pemerintah Provinsi Papua juga mendorong hilirisasi sagu sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, dan UKM Provinsi Papua, Jimmy A.Y. Thesia, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dari hulu ke hilir.

“Produk mereka pasarnya sudah ada, tetapi kita tidak bisa hanya melihat dari sisi pasar. Kita harus melihat dari hulu sampai ke hilir, mulai dari ketersediaan bahan baku, proses produksi, sampai ke bisnis proses dan inkubator bisnisnya,” ujar Jimmy A.Y. Thesia.

“Kita tidak perlu menanam lagi. Cukup tebang satu pohon, akan tumbuh sekitar 12 tunas sagu dengan sendirinya. Artinya, kita punya produk dan habitat yang sudah tersedia,” tambah Jimmy A.Y. Thesia.

Rangkaian langkah tersebut menunjukkan hilirisasi Papua bergerak dalam satu arus kebijakan yang terpadu. Dengan penguatan nilai tambah, kepastian pasar, dan dukungan lintas sektor, komoditas unggulan Papua diproyeksikan menjadi pilar ekonomi daerah yang berdaya saing global sekaligus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.