JAKARTA – Di era pemerintahan Prabowo-Gibran, pembenahan pendidikan mencakup perbaikan sekolah, digitalisasi pembelajaran, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan dukungan bagi guru terus dilakukan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia.
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfan menilai pemerintah serius membenahi pendidikan, terutama melalui perbaikan sekolah yang lama belum tersentuh dan penguatan pembelajaran berbasis teknologi.
“Pak Presiden cukup memberikan perhatian dan sangat serius membenahi pendidikan kita,” kata Lalu.
Ia juga mengingatkan pentingnya koordinasi antarkementerian agar program yang telah dirancang dapat berjalan tanpa hambatan administrasi maupun pencairan anggaran.
“Jangan sampai nanti Presiden sudah mengajukan program yang begitu baik, terkendala lagi-lagi terkait dengan birokrasi keuangan. Ini yang tidak kita inginkan,” ujarnya.
Dukungan fiskal menjadi penentu keberlanjutan agenda. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan APBN menopang program prioritas, memperluas layanan dasar, dan meningkatkan produktivitas. Hingga 31 Agustus 2026, Program Makan Bergizi Gratis tercatat menjangkau 56,99 juta penerima manfaat. Pemerintah juga memperluas Sekolah Rakyat, Sekolah Unggul Garuda, revitalisasi sekolah dan madrasah, serta digitalisasi pembelajaran.
“APBN hadir untuk memastikan prioritas pembangunan pemerintah dapat berjalan dan manfaatnya dirasakan masyarakat. Kita tidak hanya berbicara mengenai angka dalam APBN, tetapi bagaimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara dapat memperkuat kualitas manusia, meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Suahasil.
Untuk 2027, prioritas pendidikan mencakup revitalisasi sekolah, digitalisasi, sekolah gratis, kesejahteraan guru non-ASN, dan Program Indonesia Pintar. RAPBN mengajukan Rp61,1 triliun bagi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Pemerintah juga menargetkan percepatan renovasi pada 2027–2028 agar seluruh sekolah selesai diperbaiki paling lambat 2029.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mendorong mahasiswa mengasah kepemimpinan dan berpikir analitis. Perguruan tinggi, menurutnya, berperan membangun pusat pertumbuhan melalui hilirisasi riset dan inovasi.
“Kalau Anda punya keinginan sekarang, Anda kejar, Anda fight terus, jatuh, bangun, jatuh, bangun, jatuh, bangun, sampai takdir Anda bosan dan Anda mendapat apa yang diinginkan,” pesan Brian kepada mahasiswa.
Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan arah pendidikan yang kian menyeluruh, dari akses belajar yang lebih merata hingga penciptaan talenta riset dan teknologi. Dengan pelaksanaan yang konsisten serta koordinasi yang kuat, agenda Prabowo-Gibran diharapkan memperluas kesempatan belajar dan menyiapkan generasi Indonesia yang lebih unggul untuk masa depan.*












