Menjaga Ramadan Aman, Bersama Antisipasi Radikalisme dan Teror

oleh -7 Dilihat
oleh
banner 468x60

Bali – Momentum Ramadan menjadi waktu yang sakral bagi umat Muslim untuk memperkuat iman dan kebersamaan. Namun di tengah suasana damai tersebut, aparat keamanan mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman radikalisme dan terorisme yang kini bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi digital.

Detasemen Khusus 88 Anti-Teror Polri mengungkap adanya perubahan signifikan dalam metode penyebaran paham radikal. Jika pada era 1980-an hingga awal 2010 proses rekrutmen dilakukan melalui pendekatan personal dan membutuhkan waktu lama, kini penyebaran dapat terjadi dalam waktu sangat singkat melalui media sosial.

banner 336x280

Kanit Densus Cegah Satgaswil Bali Densus 88, Hadinata Kusuma, menyampaikan bahwa paparan radikalisme di era digital berlangsung jauh lebih cepat dan masif.

“Saat ini, paparan bisa terjadi hanya dalam waktu satu bulan. Kami menemukan kasus anak usia 13 tahun di Bali yang terpapar karena masifnya konten digital,” ungkapnya.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa konten radikal masih mendominasi sebagian ruang digital. Sekitar 33 persen atau setara dengan 4.100 konten bersifat inspirasi radikal dan propaganda kelompok teror. Fakta ini menjadi peringatan bahwa ruang digital tidak sepenuhnya aman, terutama bagi generasi muda yang aktif mengakses informasi secara daring.

Hadinata menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendeteksi dini paparan paham radikalisme pada anak. Perubahan perilaku yang drastis, seperti sikap eksklusif, mudah tersulut emosi, atau menunjukkan intoleransi ekstrem, dapat menjadi tanda awal yang perlu diwaspadai.

Ia juga menegaskan bahwa radikalisme dan terorisme tidak melekat pada agama atau negara tertentu. Ancaman ini merupakan penyimpangan ideologi yang harus dilawan bersama tanpa menimbulkan stigma terhadap kelompok mana pun.

Sebagai langkah antisipasi selama Ramadan, Densus 88 terus mengintensifkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Pengawasan aktivitas digital anak dinilai krusial untuk memastikan mereka tidak terjerumus pada konten yang menyesatkan.

“Kami terus melakukan sosialisasi dan upaya pencegahan, terutama bagi generasi muda yang bebas mengakses informasi online. Fokus kita adalah membanjiri ruang digital dengan lebih banyak konten positif untuk membangun ketahanan ideologi bangsa,” katanya.

Upaya ini sejalan dengan semangat Ramadan yang mengajarkan kedamaian, toleransi, dan persaudaraan. Keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga hasil kolaborasi seluruh elemen masyarakat orang tua, pendidik, tokoh agama, dan komunitas.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.