Dua Tahun Prabowo-Gibran, 11 Proyek Hilirisasi IWIP Diproyeksikan Buka 10 Ribu Lapangan Kerja

oleh -6 Dilihat
banner 468x60

Jakarta — Memasuki dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, komitmen pemerintah dalam memperkuat hilirisasi industri nasional terus sekaligus membuka lapangan pekerjaan menunjukkan hasil nyata.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa sebelas proyek hilirisasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, memiliki nilai investasi mencapai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun.

banner 336x280

Investasi jumbo tersebut dipastikan bakal memberikan dampak ekonomi signifikan, khususnya bagi penyerapan tenaga kerja lokal.
Rosan menyebut proyek tersebut diproyeksikan menciptakan lebih dari 10 ribu lapangan kerja.

“Dengan pembangunan tersebut, ekosistem industri di kawasan tersebut semakin terintegrasi dari hulu hingga hilir, dan akan tercipta lebih dari 10.000 lapangan pekerjaan,” ungkapnya.

Menurutnya, proyek-proyek yang telah dan akan dibangun mencakup berbagai rantai industri, mulai dari baterai berbasis nikel, produksi baterai, aluminium elektrolitik, dan alat berat berbasis listrik.

“Lalu, material baterai berbasis nikel, separator baterai kendaraan listrik, elektrolit baterai EV, hingga photovoltaic glass untuk industri energi surya,” kata Rosan.

Penambahan tenaga kerja ini akan menjadi angin segar bagi percepatan pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.

Lebih lanjut, pihak kementerian menegaskan bahwa angka tersebut merupakan proyeksi khusus untuk proyek baru yang sedang dikembangkan.

Jika dihitung secara kumulatif, pengembangan kawasan IWIP secara keseluruhan hingga saat ini telah menyerap lebih dari 100 ribu tenaga kerja.

Keberhasilan ekspansi investasi di IWIP menjadi bukti konkret dari dampak positif kebijakan hilirisasi di era Prabowo-Gibran.

Rosan juga menyebut, lebih dari 75% realisasi investasi hilirisasi berlangsung di luar Pulau Jawa.

Perkembangan tersebut terlihat di Maluku Utara. Industri pengolahan kini disebut menyumbang hampir separuh produk domestik bruto provinsi tersebut.

“Provinsi ini tidak lagi sekadar daerah tambang, tetapi telah menjadi daerah industri,” katanya.

Selain meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri, kebijakan ini mampu menciptakan multiplier effect berupa pembukaan lapangan kerja berskala masif, pemberdayaan ekonomi lokal, serta penguatan struktur industri nasional secara berkelanjutan. [-RWA]

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.