Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional tetap berada dalam kondisi terjaga meskipun dunia tengah dihadapkan pada ketidakpastian akibat eskalasi geopolitik dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.
Berbagai indikator makroekonomi menunjukkan resiliensi yang kuat, didukung oleh koordinasi kebijakan yang solid antarotoritas serta langkah antisipatif yang terukur.
Dalam konteks ini, pemerintah memastikan bahwa dampak global dapat dikelola secara efektif tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyampaikan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia saat ini masih berada pada jalur yang stabil dan terkendali.
Ia menekankan bahwa pemerintah terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global yang penuh ketidakpastian.
“Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan,” ujar Haryo.
Menurutnya, respons kebijakan yang adaptif dan terukur menjadi kunci dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa penguatan fondasi ekonomi domestik menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ia menjelaskan bahwa selama fundamental ekonomi tetap kuat, volatilitas nilai tukar dapat dikendalikan secara efektif.
“Pemantauan terhadap pergerakan nilai tukar juga dilakukan secara ketat guna mengantisipasi potensi gejolak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Purbaya menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
“Jika kondisi ekonomi domestik terjaga dan likuiditas sistem keuangan tetap kuat, tekanan terhadap nilai tukar dapat dikendalikan dengan lebih baik. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, pemerintah optimistis stabilitas rupiah dapat tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi dunia,” katanya.
Sementara itu, Bank Indonesia juga menunjukkan optimisme terhadap ketahanan eksternal Indonesia. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 masih berada pada level tinggi dan melampaui standar kecukupan internasional.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa cadangan devisa yang memadai memberikan ruang intervensi yang cukup bagi otoritas moneter dalam meredam gejolak pasar.
Lebih jauh, prospek masuknya aliran modal asing juga dinilai tetap terbuka seiring persepsi positif investor terhadap ekonomi Indonesia. Imbal hasil investasi yang kompetitif serta stabilitas kebijakan menjadi daya tarik tersendiri di tengah ketidakpastian global.











